Label 2

Home » » ASAL MULA DESA PARAKAN

ASAL MULA DESA PARAKAN

Written By Nizar Anwar on Sabtu, 14 Juli 2012 | 21.22



Pada saat Kerajaan Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono, atas jasa besarnya bagi Kerajaan Demak, Panglima Perang yang bernama JAKA TINGKIR dinikahkan dengan Putri Sultan Trenggono, dan diberi jabatan sebagai Bupati Pajang, bergelar HADIWIJAYA. Pada tahun 1546, Sultan Trenggono meninggal dan digantikan oleh Sultan Prawoto. Namun hanya berselang 3 tahun, dia dibunuh oleh sepupunya sendiri yaitu Arya Penangsang yang selanjutnya menjadi Raja Demak. Ratu Kalinyamat, Putri Sultan Trenggono yang menjabat sebagai Bupati Jepara, merasa dendam terhadap Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat mendesak Hadiwijaya selaku saudara ipar untuk membalas dendam terhadap Arya Penangsang. Dan menjanjikan Demak sebagai kekuasaan Hadiwijaya. Namun karena Arya Penangsang adalah kakak seperguruan yang sama-sama menuntut ilmu pada Sunan Kudus, dan lagi mereka memang masih ada hubungan saudara, maka Hadiwijaya merasa tak enak untuk melawan Arya Penangsang, dia membuat sayembara, barang siapa yang bisa membunuh Arya Penangsang, maka akan diberi hadiah berupa tanah perdikan di Pati dan Mataram. Ki Ageng Pemanahan, beserta anaknya yaitu Sutawijaya dan juga Ki Panjawi bergabung untuk mengikuti sayembara tersebut. Mereka berhasil membunuh Arya Penangsang. Maka Hadiwijaya menggantikan Arya Penangsang menjadi Raja Demak, yang oleh Hadiwijaya ibukotanya dipindahkan ke Pajang sehingga Kerajaan Demak berubah menjadi Kerajaan Pajang. Ki Panjawi mendapat hadiah tanah di Pati dan diangkat menjadi Bupati Pati, sedangkan Ki Ageng Pamanahan dan Sutawijaya, yang juga merupakan anak angkat Hadiwijaya diberi hadiah tanah di Bumi Mentaok Mataram, yang nantinya akan menjadi Kerajaan Mataram Islam dan Sutawijaya menjadi raja pertama yang bergelar Panembahan Senopati. Pada masa pemerintahan Hadiwijaya, Kerajaan Pajang berhasil melebarkan sayapnya hingga ke Jawa Timur. Namun ironisnya, Hadiwijaya justru dikalahkan oleh anak angkatnya sendiri, yakni Sutawijaya atau Panembahan Senopati, Raja Mataram yang dulu diberi hadiah tanah oleh Hadiwijaya. Hal tersebut dikarenakan Hadiwijaya mendapatkan ramalan dari Sunan Prapen, yang mengatakan bahwa Mataram akan menjadi kerajaan yang jauh lebih besar daripada Pajang. Hadiwijaya berniat menyerang Mataram sebelum menjadi besar. Bahkan Tumenggung Mayang yang menikah dengan adik Sutawijaya atau Panembahan Senopati dibuang ke Semarang. Pada tahun 1582, Hadiwijaya yang tak ingin kekuasaannya terlampaui Mataram, segera menyusun pasukannya yang berjumlah 10 ribu orang untuk menyerang Mataram. Sementara Sutawijaya atau Panembahan Senopati, yang merasa tersinggung adiknya dibuang ke Semarang meladeni serangan Pajang. Meski kekuatan pasukan Mataram tak sampai sepertiga pasukan Pajang. Namun Mataram berhasil mengalahkan pasukan Pajang. Sepulang dari peperangan melawan Mataram, Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal pada tahun 1583. Sayangnya, tahta Pajang justru menjadi perebutan anak dan menantunya, yakni Pangeran Benawa dan Arya Pangiri yang merupakan Bupati Demak. Karena campur tangan Panembahan Kudus, Arya Pangiri berhasil naik tahta menjadi Raja Pajang, dan Pangeran Benawa menjadi Bupati Jipang. Namun pada masa pemerintahannya, Arya Pangiri malah kurang becus memimpin kerajaan. Dia terlalu berambisi untuk membalas dendam pada Mataram, hingga wilayahnya sendiri tidak terurus dan banyak yang melepaskan diri dari kekuasaan Pajang. Pangeran Benawa merasa prihatin dengan hal tersebut. Pada tahun 1586, Pangeran Benawa meminta bantuan Raja Mataram Panembahan Senopati yang merupakan kakak angkatnya untuk melawan Arya Pengiri. Dengan bantuan Panembahan Senopati, Pangeran Benawa berhasil mengalahkan Arya Pangiri. Pangeran Benawa mengambil alih kekuasaan sebagai Raja Pajang dan bergelar Prabu Wijaya, sedang Arya Pangiri dikembalikan ke daerah asalnya yaitu Demak. Semasa memerintah Pajang, Prabu Wijaya atau Pangeran Benawa mengalami pergolakan bathin yang hebat. Hatinya yang lembut justru merasa tak nyaman dengan jabatannya sebagai Raja Pajang, maka pada tahun 1587, Pangeran Benawa memilih untuk menanggalkan jabatannya, dan ingin mengabdikan dirinya sebagai seorang ulama. Sayangnya, tak ada keturunannya yang mau menggantikannya menjadi Raja. Sehingga Pajang hanya menjadi bawahan Mataram dan hanya dijadikan sebuah kabupaten. Dan yang menjadi Bupati adalah Pangeran Gagak Baning adik dari Sutawijaya atau Panembahan Senopati. Pangeran Benawa meninggalkan kerajaan dan pergi ke arah barat. Dalam Babad Kendal dan juga Babad Pemalang, dikisahkan Pangeran Benawa pergi untuk menenangkan hatinya dan justru memilih untuk tinggal di Hutan Kukulan, yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Batang. Namun, Pangeran Benawa tak lama tinggal di Hutan Kukulan. Dia meneruskan perjalanannya untuk mencari tempat tinggal yang lebih baik. Dalam Babad Kendal dan Babad Pemalang, dikisahkan Pangeran Benawa meneruskan perjalanannya ke arah utara. Namun ini kurang meyakinkan. Menurut Kyai Muhaiminan Gunardo, Pangeran Benawa akhirnya memilih tinggal di daerah yang diapit dua sungai, yakni Sungai Mbrangkongan dan Sungai Galeh, maka seharusnya perjalanan Pangeran Benawa justru ke arah Selatan. Tapi pendapat inipun kurang disertai bukti yang cukup, yang mungkin bisa menguatkan pendapat tersebut adalah bahwa ditempat tinggal barunya ini, banyak orang yang sowan atau marak pada Pangeran Benawa untuk menuntut ilmu dan selanjutnya tinggal disitu. Karena banyak orang yang MARAK itulah, maka setelah banyak penghuninya, daerah tersebut diberi nama PARAKAN. Lama kelamaan Pangeran Benawa yang tinggal di Parakan ini terdengar pula sampai ke telinga Raja Mataram Panembahan Senopati, kakak angkat Pangeran Benawa. Oleh Panembahan Senopati, Pangeran Benawa diberi gelar SUSUHUNAN PARAKAN, atau lebih sering disebut SUNAN PARAKAN. Sedangkan KI BAHU, yang menyertai kepergian Pangeran Benawa dari Pajang, oleh Panembahan Senopati diberi tugas untuk membuat negeri baru, dan penghasilan dari negeri tersebut diserahkan pada Pangeran Benawa. Ki Bahu diberi gelar kehormatan KYAI NGABEHI BAHUREKSO. Mungkin negeri baru yang dibuat Kyai Ngabehi Bahurekso adalah daerah antara Kendal dan Pemalang. Yang kini menjadi Desa Pekuncen, Kecamatan Pegandon Kendal Jawa Tengah. Masyarakat Pekuncen meyakini adanya barang peninggalan Pangeran Benawa disana berupa Gentong Puteri yang konon berasal dari Demak. Bahkan dibelakang Masjid Pekuncen terdapat sebuah makam, yang diyakini sebagai Makam Pangeran Benawa. Mungkin setelah wafat, jenazah Pangeran Benawa diurus oleh Kyai Ngabehi Bahurekso, atau mungkin juga justru Pangeran Benawa setelah dari Parakan pindah ke Pekuncen.
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Arnendra Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger